Tampilkan postingan dengan label Diabetes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diabetes. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 April 2011

Yok jaga Gula Darah Anda.


Jaga Gula darah Anda

Diabetes merupakan penyakit yang bisa merenggut penglihatan, kerja ginjal, bahkan jantung. Sebuah penyakit yang sudah menewaskan ribuan orang. Kendati demikian, banyak orang yang hanya angkat bahu ketika ditanya tentang kemungkinan terkena penyakit ini karena gejalanya memang bisa tak terlihat.

Periksakan gula darah guna mewaspadai naiknya kadar glukosa.



Organisasi kesehatan dunia (WHO) dan Federasi Diabetes Internasional memperkirakan lebih dari 50 persen pengidap diabetes tipe 2 tidak terdiagnosis. Mereka umumnya baru ketahuan saat berobat untuk penyakit lain. Di Indonesia, mayoritas pasien diabetes datang ke dokter sudah membawa setumpuk komplikasi. Karena itu perlu dilakukan deteksi dini untuk mencegah penyakit ini.

Diagnosis diabetes melitus dapat dilakukan dengan beberapa cara yang pada dasarnya melalui keluhan klinis dan dukungan pemeriksaan penunjang. Pada diabetes, gula darah selalu tinggi. "Dokter baru mendiagnosa seseorang diabetes bila kadar gula darah sewaktunya di atas 200 mg/dl atau gula darah puasa lebih atau sama dengan 126 mg/dl ," kata Prof.dr.Sri Hartini KS.Kariadi, Sp.PD-KEMD, penulis buku Diabetes? Siapa Takut!!

Ia menambahkan, ada beberapa kasus dengan kadar gula tinggi tetapi bukan diabetes, melainkan pra-diabetes, yakni bila pemeriksaan gula darah sewaktu menunjukkan angka 140 mg/dl.

"Pra-diabetes biasanya ditemukan sebelum atau mendahului timbulnya diabetes. Pasien pada golongan ini tidak sepenuhnya diperlakukan seperti diabetesi, tetapi mereka sudah diwanti-wanti untuk menjaga makanan dan berolahraga agar penyakitnya tidak berkembang menjadi diabetes," kata Guru Besar dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung ini.

Senada dengan Prof.Sri Hartini, Prof.Dr.Sidartawan Soegondo, Sp.PD, KEMD, mengatakan orang yang mengalami pra-diabetes masih bisa membalikkan keadaan atau paling tidak melambatkan perburukan kondisi. "Pada dasarnya dalam kondisi ini sudah terjadi resistensi insulin. Namun kondisi ini bisa dipulihkan dengan mengubah gaya hidup jadi lebih sehat," papar Presidan Persatuan Diabetes Indonesia ini dalam media edukasi tentang diabetes di Jakarta beberapa waktu lalu.

Kontrol gula darah Dalam waktu lima tahun, pradiabetes yang tidak ditangani akan berkembang menjadi diabetes. Seseorang didiagnosis menderita diabetes ketika tubuhnya tidak menghasilkan cukup insulin atau tidak menggunakan insulin yang ada dengan benar. Insulin adalah hormon yang dikeluarkan oleh pankreas dan diperlukan untuk mengubah makanan menjadi energi.

Pada orang sehat, glukosa secara otomatis diserap oleh sel-sel. Tubuh menggunakan glukosa tepat sesuai kebutuhan dan menyimpan yang tersisa. Akan tetapi tanpa insulin yang berfungsi membuka reseptor sebuah sel sehingga glukosa dapat masuk, gula yang berlebih ini terkumpul di aliran darah dan bisa menyebabkan segudang masalah.

Kelebihan berat badan merupakan faktor utama untuk diabetes pada orang dewasa. Hal ini terutama sangat penting untuk orang yang memiliki riwayat keluarga dengan penderita diabetes. Menurut Sidartawan, mereka yang berisiko tinggi terkena diabetes adalah berusia lebih dari 40 tahun, hipertensi, kegemukan, kolesterol tinggi, serta memiliki riwayat dalam keluarga. "Mereka ini dianjurkan melakukan pemeriksaan dini," katanya.

Langkah utama untuk menghindari risiko diabetes dan komplikasinya adalah dengan melakukan pemantauan gula darah secara rutin. Tingginya kadar gula darah menimbulkan komplikasi pembuluh darah. Mikroangiopati (gangguan mata, ginjal, dan saraf) maupun makroangiopati (stroke dan gangguan jantung).

Diabetes adalah penyakit yang menyerang secara diam-diam namun berakibat menjadi sebuah bencana. Karena itu penting bagi kita untuk memeriksakan gula darah guna mewaspadai naiknya kadar glukosa.

Saat ini banyak tersedia alat pengukur gula darah mandiri yang bisa dilakukan oleh kaum awam sehingga pasien bisa memantau sendiri gula darahnya. "Dengan pemantauan gula darah, konsumsi makanan bisa dikelola sehingga tak menimbulkan diabetes," kata Hery Purwanto, Product Manager Accu-Chek dari PT. Roche Indonesia.

Hindari kegemukan Mereka yang diketegorikan pradiabetes sudah harus mengubah gaya hidup. Perubahan itu bisa memperlambat, bahkan mencegah terjadinya diabetes. Ini berarti lebih banyak mengonsumsi makanan yang mengandung serat, menghindari gula, serta mengendalikan berat badan.

"Untuk mencegah diabetes, mereka yang termasuk pradiabetes dianjurkan untuk mengurangi atau menghilangkan faktor risiko, seperti kegemukan, kurang gerak dan faktor risiko lainnya," kata Sri Hartini.

Peneliti di Harvard University, Amerika Serikat, menemukan bahwa olahraga merupakan cara yang baik untuk membantu mencegah diabetes tipe 2. Dari wawancara dengan 22.000 dokter, para peneliti menemukan bahwa pria yang berolahraga sekurangnya lima kali dalam seminggu bisa menurunkan risiko mereka menderita diabetes hingga 40 persen.

Olahraga juga akan membantu tubuh lebih maksimal menyerap semua gula yang beredar dalam tubuh. Olahraga yang disarankan adalah yang bersifat aerobik dan dilakukan secara teratur. Dalam jangka panjang hal ini akan membuat sensitivitas tubuh terhadap glukosa menjadi lebih besar sehingga kadar gula darah lebih stabil.

Lebih baik tahu dan cegah lebih dini,karena 'MENCEGAH LEBIH BAIK DARIPADA MENGOBATI'
Semoga bermanfaat.

www.asihcla-10.blogspot.com

Polusi Udara bisa Picu Diabetes


Polusi Udara bisa Picu Diabetes

Sebuah penelitian terbaru menunjukkan hubungan kuat antara risiko terserang diabetes dan paparan asap knalpot, asap industri, dan jenis-jenis polusi udara partikulat halus.


Masyarakat yang tinggal di daerah dengan tingkat kualitas udara di bawah batas keselamatan Badan Perlindungan Lingkungan memiliki prevalensi diabetes lebih dari 20 persen lebih tinggi dari orang yang terkena polusi udara lebih sedikit.

"Kita tahu paparan polusi udara adalah faktor risiko penyakit kardiovaskuler," kata John Brownstein, PhD, dari Children's Hospital Boston dan Harvard Medical School. "Ini hanyalah satu bagian dari bukti bahwa dampak polusi kesehatan sungguh serius."

Brownstein dan rekan menghitung data gabungan Badan Lingkungkan Amerika terhadap partikulat udara halus hasil polusi udara. Kemudian menghubungkannya dengan data dari CDC (Centers for Disease Control and Prevention) dan badan sensus Amerika tentang banyaknya orang yang menderita diabetes selama tahun 2004 dan 2005.

Analisis tersebut menunjukkan hubungan yang kuat dan konsisten antara tingkat diabetes dan tingkat polusi udara.

Walaupun temuan ini tidak membuktikan kaitan langsung polusi udara dengan epidemi diabetes, tetapi cukup menggambarkan peran faktor lingkungan lain dalam meningkatkan risiko diabetes selain fenomena lain yang sekarang sedang marak di dunia Barat, yakni obesitas.

Bahkan, dalam penelitian pada hewan sebelumnya, peradangan kronis telah terbukti dapat meningkatkan resistensi insulin, yang mengarah ke diabetes. Bahan kimia dalam polusi udara telah dihubungkan dengan peradangan ini.



"Untuk itu, kesimpulan kami tentang hubungan ini mungkin lebih kuat terjadi pada orang gemuk. Sebab, banyak bahan kimia terakumulasi dalam lemak," tambah Brownstein.


Jadi dengan adanya Polusi Udara yang makin parah akhir-akhir ini,kita harus waspada akan banyak muncul penyakit-penyakit karena ulah manusia yang tidak bertanggung jawab.Agar hal ini tidak semakin parah kita harus peduli dengan alam sekitar kita,walaupun kecil tapi nyata itu lebih berarti daripada hanya diam saja.

Banyak hal yang dapat kita lakukan : hemat energi (listrik,minyak),menanam pohon (habis makan buah,biji dikeringkan kemudian ditanam),Gunakan pupuk alami untuk tanaman,Hemat air,Beli an Gunakan alat-alat yang ramah lingkungan dan masih banyaka lagi.

Siapa lagi yang Peduli kalau bukan KITA SEMUA.

www.asihcla-10.blogspot.com

Diabetes


Diabetes melitus merupakan penyakit yang cukup "disegani", selain karena tidak mungkin disembuhkan, efek samping penyakit ini bisa berakibat fatal. Meski penyakit ini cukup dikenal, nyatanya masih banyak mitos yang melingkupinya. Cari tahu fakta sebenarnya di sini.


Kebanyakan gula bikin diabetes Mengurangi asupan gula memang salah satu dari cara mengontrol kadar gula darah pada penderita diabetes. Namun bukan berarti hal itu menjadi penyebab penyakitnya. Faktanya, diabetes disebabkan karena tubuh tak cukup menggunakan insulin, hormon yang dihasilkan oleh pankreas. Akibatnya, terjadi kelebihan gula di dalam darah sehingga menjadi racun bagi tubuh.

Penderita diabetes harus mengonsumsi makanan diet Sebenarnya tidak tepat begitu. Hingga saat ini belum ada diet khusus untuk diabetes, yang ada adalah upaya menormalkan kembali kadar gula darah. Semua makanan boleh dikonsumsi diabetesi asalkan sanggup membatasi jumlahnya sesuai kebutuhan. Jika tidak, apalagi sulit menurunkan gula darahnya, untuk amannya konsumsi jenis makanan yang disarankan dokter. Penelitian menunjukkan, makanan yang kaya serat efektif menurunkan gula darah.

Pengidap diabetes butuh insulin Mitos ini sering membuat pasien yang baru didiagnosa diabetes menjadi panik. Memang penderita diabetes tipe 1, yang tubuhnya tidak bisa memproduksi insulin, membutuhkan suntikan insulin. Pasien diabetes tipe 2 butuh suntikan insulin bila obat-obatan sudah tidak efektif lagi. Tetapi dengan pengaturan pola makan dan obat saja biasanya sudah cukup.

Penyakit diabetes ada yang ringan Tidak. Sebagian pasien memang memiliki kadar gula darah yang tinggi dibanding yang lain sehingga penyakitnya mengalami komplikasi. Namun, begitu dokter mendiagnosa Anda terkena diabetes, jangan pernah mengingkarinya dan menganggap penyakit ini sepele. Karena Anda perlu melakukan titik balik perubahan gaya hidup. Lakukan perubahan pola makan dan berolahraga untuk mengontrol gula darah.

Sering kencing malam hari tanda diabetes Sering buang air kecil, mudah haus, berat badan turun drastis, nafsu makan meningkat dan kelelahan merupakan gejala diabetes. Namun ada kondisi pendahuluan dari munculnya diabetes, yaitu penderita belum mengalami gejala fisik diabetes tapi kadar gula darah puasanya sudah di atas normal. Kondisi ini disebut gejala pre-diabetes. Untuk itu, cara terbaik untuk mengetahuinya adalah dengan melakukan pemeriksaan kadar gula darah minimal setahun sekali, terutama jika Anda termasuk kegemukan dan memiliki riwayat keluarga penderita diabetes.

Kesehatan nomor satu,jagalah sebelum terjadi,cegahlah lebih dini.
Powered By Blogger